Allah Swt. berfirman menceritakan keduanya:
*...Maka keduanya berjalan.* Yaitu melanjutkan perjalanannya, sesudah kedua peristiwa itu.
*...hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri.*
Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa kota tersebut adalah Al-Ailah. Di dalam sebuah hadis disebutkan:
hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri yang kikir.
Yakni penduduk negeri itu orangnya kikir-kikir.
*...tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh,*
Iradah atau kehendak disandarkan kepada dinding dalam ayat ini merupakan ungkapan isti'arah (kata pinjaman), karena sesungguhnya pengertian kehendak hanyalah disandarkan kepada makhluk yang bernyawa berarti kecenderungan. Inqidad artinya runtuh (roboh)
**Firman Allah Swt.:**
*...maka Khidir menegakkan dinding itu.*
Yakni mengembalikannya ke posisi tegak kembali. Dalam hadis yang terdahulu telah disebutkan bahwa Khidir menegakkan dinding itu dengan kedua tangannya, yaitu dengan mendorongnya hingga tidak miring lagi, hal ini merupakan peristiwa yang menakjubkan. Pada saat itu juga Musa berkata kepadanya:
*Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.*
Karena mereka tidak mau menjamu kita, maka selayaknyalah kamu tidak bekerja untuk mereka secara cuma-cuma tanpa imbalan.